Permasalah pada kasus ini yaitu seorang anak laki-laki yang berusia lima tahun yang menderita buang air encer yang sampai sepuluh kali per hari dan kadang-kadang lebih. Anak ini juga mengalami gejala klinis lainnya berupa demam, rewel, dan menangis. Dari pemeriksaan laboratorium pada faeces secara makroskopis terlihat ada darah dan lender. Berdasarkan tanda-tanda tersebut, anak tersebut diduga mengalami diare.
Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan kosentrasi dari tinja yang melembek atau mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasanya (tiga kali sehari)(5) yang juga disertai atau tanpa disertai dengan lendir dan darah. Dalam keadaan normal, jumlah volume feaces yang dikeluarkan adalah 150 gram/hari namun pada saat terjadinya diare jumlah volume feaces yang dikeluarkan meningkat sebesar >250 gram/hari dengan konsentrasi air 70%-95%.
Penyebab terjadinya diare pada anak antara lain disebabkan oleh:(1)
a. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri (seperti: Escherichia coli, Salmonella sp, Shigella sp, Staphylococcus aureus, Bacillus cereu,s dll), parasit (seperti: Balantidium coli, Entamoeba histolytica, Cryptosporidium, Giardia lamblia, dll), dan virus (seperti: Adenovirus, Coronavirus, Astrovirus, Rotavirus, dll).
b. Alergi makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri, parasit, maupun virus.
c. Malabsorpsi. Contohnya pada Laktosa intoleransi. Alasan terjadinya intoleransi laktosa yaitu dikarenakan adanya kerusakan mukosa usus halus akibat infeksi akut dan hipersensitivitas dari enteropati yang sensitif terhadap protein susu sapi (fraksi beta-laktoglobulin)
d. Keracunan yang disebabkan oleh bahan kimia dan keracunan yang disebabkan oleh hasil produk dari jasad renik dan bahan makanan. Keracunan bahan kimia juga bisa membuat seseorang diare seperti obat-obatan, yang paling umum adalah antibiotika yang menghancurkan bakteri yang baik dan buruk.
e. Immuno difesiensi. Contohnya pada gangguan sekresi IgA sehingga membuat peningkatan flora usus seperti candida.
Patofisiologi terjadinya diare antara lain:(2)
· Osmolaritas intranuminal (diare osmotik) yang meningkat disebabkan oleh obat-obatan dan zat kimia yang hiperosmotik.
· Sekresi cairan dan elektrolit yang meninggi (diare sekretorik) disebabkan oleh peningkatan permeabilitas air di colon sehingga kerja absorpsi menurun.
· Malabsorpsi lemak yang didapat dari produksi missel empedu dan penyakit biliar hati.
· Defek sistem pertukaran anion dan transport elektrolit aktif di eritrosit.
· Motilitas dan transit usus yang abnormal.
· Gangguan permeabilitas usus karena kelainan morfologi membran epitel yang spesifik pada usus halus.
· Inflamasi dinding usus (diare inflamatorik) karena adanya kerusakan mukosa usus, sehingga terjadi sekresi mukus yang berlebihan ke dalam lumen dan gangguan absorpsi air dan elektrolit.
· Infeksi dinding usus (diare infeksi) yang di sebabkan karena keseringan diaere.
Beradasarkan permasalahan yang dialami oleh anak tersebut dengan melihat adanya gejala klinis seperti,demam, tinja yang cair berlendir dan berdarah maka hipotesa sementara bahwa pasien ini menderita amebiasisi intestinal akut atau disentri amoeba.
Diare dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi dibedakan menjadi dua macam yaitu dehidrasi primer dan sekunder. Dehidrasi primer yaitu dehidrasi yang disebabkan karena intake dari pada cairan yaitu air yang kurang sehingga menyebabkan jumlah natrium meningkat didalam kapiler. Keadaan yang hipertonis tersebut menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding kapiler sehingga cairan interstitiel menjadi hipertonis. Akibat ruang interstitiel yang pekat mengakibatkan pengeluaran air dari sel (sel tersebut mengalami hipotonis) sehingga terjadilah dehidrasi. Sedangkan dehidrasi sekunder terjadi karena kekurangan elektrolit dalam tubuh yaitu natrium yang menyebabkan kapiler menjadi hipotonis dan cairan interstitiel menjadi hipotonis sehingga menyebabakan air masuk kedalam sel yang mengakibatkan sel tersebut hipertonis.
Untuk mendukung diagnosa sementara maka dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium yang bertujuan untuk memastikan penyebab dari diare tersebut. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan antara lain:
· Pemeriksaan feaces. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan secara makroskopis (warna,bentuk,bau,dan volume) dan mikroskopis (eritrosit, leukosit, parasit/bakteri)
· Pemeriksaan urin,yaitu pemeriksa urin rutin
· Pemeriksaan darah rutin (Hb ,leukosit, LED, hematokrin, dan ph)
Dari kasus seorang anak laki-laki berumur 5 tahun yang diduga menderita infeksi oleh mikroba telah dilakukan pemeriksaan laboratorium darah dan tinja dengan hasil:
Pemeriksaan | Interpretasi |
I.DARAH Hb : 13 g % Eritrosit : 4,2 juta/mm Lekosit : 11.000/μl Trombosit : 175.000/μl LED : 20 mm/jam Hitung jenis : 0/2/4/63/25/6 II. TINJA Makroskopis à Darah dan lender (+) Mikroskopis à Eritrosit : banyak Leukosit : 10-15/LPB Amoeba (-) | à normal : 12-14 g % à normal : 5-5,5juta ; kadar eritrosit ↓ à normal : 5.000-10.000 ; kadar leukosit ↑ à normal : 150.000 – 450.000 à normal : 0-10 mm/jam; LED tinggi à normal : 0-1/1-3/2-6/50-70/20-40/2-8 à normal : 1-2/LPB à normal : 2-6/LPB |
Selain pemeriksaan laboratorium, dilakukan juga pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lainnya untuk penegakan diagnosis seperti :
- Pemeriksaan biakan tinja à untuk mengetahui adanya bakteri basiller.
- Deteksi antigen à metode elisa , pada pemeriksaan ini feses harus dalam keadaan segar dan tidak terkena pengawet.
- Pemeriksaan serologi.
- Pemeriksaan PCR à untuk dapat membedakan infeksi Entamoeba histolytica.
§ Dengan bantuan enzim polymerase sehingga DNA parasit dapat diketahui dengan pasti
§ Kelemahannya pada biaya mahal dan lebih sulit
- Sigmoidoskopi dan rektoskopi à adalah alat yang dimasukkan ke rectum untuk melihat parasit diusus.
Berikut adalah morfologi stadium – stadium yang dimiliki Entamoeba histolytica
Stadium | Morfologi |
a. Stadium Histolitica | - Bersifat pathogen - Hidup dijaringan usus besar, hati, otak, paru-paru, kulit, vagina - Berkembang biak dengan cara belah pasang longitudinal - Dapat merusak jaringan dengan mengeluarkan enzim preteolitik - Mempunyai ukuran 20-40 mikron Ectoplasma : Jernih Homogen , membentuk pseudopodium besar dan lebar seperti daun , dibentuk mendadak dan pergerakan cepat Endoplasma : berbutir halus, Inti berentamoeba centris, mengandung sel darah merah, tidak mengandung bakteri atau sisa makanan |
b. Stadium minuta | - bersifat essensial - Berkembang biak dengan cara belah pasang longitudinal - Hidup sebagai komensal - Berkembang biak secara longitudinal - Ukuran 10-20 mikron Ectoplasma : tidak nyata , pseupodium dibentuk perlahan lahan pergerakan lambat Endoplasma : mengandung bakteri dan sisa makanan , hati entamobae dengan karsyosoma centris |
c. Stadium kista | - Tidak pathogen tapi bersifat infektif - Dibentuk di rongga usus besar - Ukuran 10-20 mikron - Bentuk bulat lonjong mempunyai dinding kista - Mempunyai inti entamoeba - Dalam tinja berinti 1,2,4 Endoplasma: kista muda terdapat benda chromatoid besar seperti lisong dan vacuole glycogen, sebagai makanan cadangan. |
manusia terinfeksi karena menelan stadium infektifà masuk kelambung (dinding tidak berubah karena dinding tahan akan asam lambung)àmasuk ke rongga usus halus dinding kista dicerna dan di eksistansi menjadi stadium minuta à membuat suatu dinding kista yang dikeluarkan melalui feses dan infektif atau menjadi stadium Histolytica yang pathogen dan hidup di mucosa usus besar dan memperbanyak diri dengan belah pasang longitudinalàmasuk kedarah dan menyebar ke jaringan |

Daur hidup dari Entamoeba histolytica
Dari pemeriksaan mikroskopis laboratorium tidak ditemukan amoeba pada tinja pasien , hal ini menunjukkan dua kemungkinan .Kemungkinan yang pertama tidak ditemukannya bentuk trofozoit amoeba karena pemeriksaan feses hanya 1 kali dari 3 kali pemeriksaan lalu kemungkinan kedua adalah disentri sebabkan oleh bakteri basiller seperti shigella yang mungkin dapat dibuktikan apabila pemeriksaan penunjang dilakukan.(3)
Penatalaksanaan yang tepat pada kasus ini adalah:
a. Melakukan anamnesis : keluhan pasien,lama penyakit yg diderita,frekuensinya
b. Manifestasi klinis : apakah pasien menderita dehidrasi atau asidosis
c. Menegakkan diagnosis sementara
d. Melakukan pemeriksaan laboratorium/penunjang jika diperlukan
e. Melakukan pengobatan sesuai dengan hasil
daftar pustaka:
1. Robins, Kumar, Cotran. Robins Basic Pathology. India : Elsevier. 2005
2. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi Volume 1. Edisi 6. Jakarta : Penerbit EGC, 2005.
3. Staf Pengajar Departemen Parasitologi FKUI. Parasitologi Kedokteran. Edisi Keempat. Sutanto I, Ismid IS, Sjarifuddin PK , Sungkar S, Editors. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2008.
4. Kumar V, Cotran RS, Robbins STA. Rongga Mulut dan Saluran Gastrointestinal. In: Hartanto H, Darmaniah N, Wulandari N, editors. Buku Ajar Patologi. 7th, ed. Vol;2. Jakarta : EGC;2007.p. 636.
5. Dorland WAN. Kamus Kedokteran Dorland. In: Hartanto H dkk, editors. 29th, ed. Jakarta : EGC;2002.p.1097.



No comments:
Post a Comment