disiang hari ketika matahari memancarkan panasnyakau berjalan menelusuri jalanan ibu kota
tanpa alas kaki tanpa pelindung kepala
terus berjalan tanpa memikirkan lelahnya tubuhmu
untuk mencari segenggam kehidupan
kehidupan yang selalu meminta perjuangan
akan keberanian untuk melawannya
kau hampiri setiap sudut kota
berdiri sambil bersenandung lagu prahara
nyanyian dari jeritan suara hati
meminta belas kasihan dari orang berada
mengadahkan tangan sambil berkata
"pak, buk, mohon bantuannya.. kami belum makan"
tak mengenal usia, tak mengenal jenis kelamin
yang penting usaha untuk mendapatkan segenggam kehidupan hari ini
hari esok akan dipikirkan esok pula
lihatlah tuan-tuan dan nyonya-nyonya
dia bernyanyi untuk anda
dengan suara yang pecah, wajah yang lusu
tetap terus bernyanyi, melantunkan lagu
kisah sedih tentang pedihnya hidup
mana janji pemimpin negeri ini
kemana mereka setelah rakyat-rakyat jelata memilih
dengan semangat akan adanya perubahan
harapan kehidupan yang lebih baik
untuk mendapatkan derajat yang lebih terhormat
mereka tak meminta janji
mereka tak meminta suapan materi
mereka tak meminta perhatian yang lebih
namun mereka meminta bukti dari kepemimipinanmu
meminta akan hak-hak mereka yang telah kau makan
apakah tak malu diberi simbol tikus makan uang?
apakah tidak malu disorot media massa?
ditonton ribuan penduduk negeri
dicaci, dihujat, dilempar
sungguh manusia tak berhati dan tak bermuka
itukah yang disebut seorang pemimpin?
harapan kehidupan yang lebih baik
untuk mendapatkan derajat yang lebih terhormat
mereka tak meminta janji
mereka tak meminta suapan materi
mereka tak meminta perhatian yang lebih
namun mereka meminta bukti dari kepemimipinanmu
meminta akan hak-hak mereka yang telah kau makan
apakah tak malu diberi simbol tikus makan uang?
apakah tidak malu disorot media massa?
ditonton ribuan penduduk negeri
dicaci, dihujat, dilempar
sungguh manusia tak berhati dan tak bermuka
itukah yang disebut seorang pemimpin?
No comments:
Post a Comment